Sabtu, 27 Juni 2015

Another Rakum's Story part II



 Ini merupakan kelanjutan cerita perjalananku ketika menuju Ranukumbolo, di sini masih juga belum aku posting sampai ending, soalnya masih dalam proses pembuatan. sabar yah nunggu cerita selanjutnya, tapi untuk kalian para pembaca setiaku silahkan disimak aja "another rakum's story part II" ini.

“Kringg kringg kringg” alarm jam 3 berbunyi, aku segera bangun dan saat membuka mata aku melihat dia, aku pernah mengalami hal yang sama dulu ketika aku bersama masalaluku. Melihat wajahnya ketika membuka mata membuat detak jantungku begitu cepat. Didepanku dia terlihat tertidur sangat lelap dan pulas banget tidurnya, gak tega rasanya buat bangunin dan minta temanin lihat bintang serta memotret bintang. Yang kulakukan ketika itu ya Cuma baring di sampingnya sambil memainkan ponselku hingga ngantukku datang dan aku tertidur lagi di sampingnya dan akhirnya batal sudah melihat bintang malam itu. Kami bangun pagi-pagi sekali dan  sudah berisik dengan para pendaki yang lainnya yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Aku dan dia malah asik membuat perapian untuk menghangatkan tubuh yang dingin karena di sana suhunya mencapai 4 derajat, kita sangat santai dibandingkan pendaki yang lainnya kita sempat membuat sarapan dan setelah itu barulah kita berkemas barang bawaan. Selesai sarapan, kita di buat ribet sama orang yang katanya mau ikut mendaki bersama kita, tiba-tiba saja dia membatalkan perjalanannya jadinya kita mengurus ulang perizinannya kepada pihak pengelola dan hal tersebut membuat lumayan memakan waktu yang banyak hingga akhirnya sehabis zuhur sekitar jam 14.00 kita baru memulai perjalanan tracking.

Tracking saat weekend ada enaknya dan banyak tidak enaknya, enaknya karena kita yang hanya berdua tidak perlu takut dan tidak perlu khawatir selama di perjalanan soalnya selalu ketemu dengan pendaki yang lainnya dan pasti saling tegur sapa. Di Semeru memiliki sapaan yang hanya di temukan di sana saja “marimas” itulah sapaan yang sering kalian dengar jika melakukan perjalanan ke Semeru. Hal yang tidak enaknya ketika weekend ke sana ya itu terlalu ramai hingga seperti membuat sebuah kampung di sebuah Ranukumbolo. Yaa meskipun ada enak dan tidak enaknya aku tetap saja menikmati setiap langkah yang kulalui dan menikmati setiap inci keindahan alam disekitarku, rasa lelah segera berlalu kita merasa sedang menyatu dengan alam karena alam adalah rumah kita. Sepanjang perjalanan beberapa kali berpapasan dengan orang, sering orang lain mengira kita sebagai sepasang kekasih karena hanya berdua saja dan sebenarnya kita hanya “teman” beberapa pertanyaan dan pernyataan orang lain sering kita dengar seperti “berdua aja? Pacarnya ya? Berdua aja, sweetnya!” dan kita hanya menjawab dengan “iya berdua aja. Enggak Cuma teman, dan di balas dengan senyum”. 

Sorepun tiba langit sore akan berganti menjadi senja dan malam akan tiba. Kita sangat menikmati perubahan dari sore menuju senja, kita berdua duduk santai menikmati pantulan air Ranukumbolo yang diberi cahaya oleh teriknya sinar mentari menuju senja yang sangat greget moment karena kali pertama aku berdua sama dia disini. Duduk menikmati senja sambil melepas lelah karena kita melakukan perjalanan 5 jam dari Ranupane keRanukumbolo (satu jam lebih cepat dibandingkan aku dulu pertama kali kesini). Malam mulai tiba kita berdua segera turun menuju tempat perkemahan dan  membangun tenda lagi, merapikan barang-barang ke dalam tenda lagi dan bersiap santai lagi. 

Dingin... Dingin... Dingin... hanya itu yang bisa kita rasakan saat malam hari, aku bingung mau ngelakuin apa selain baring dan selimutan tapi kita berdua sama-sama belum makan jadinya aku bangun ngambil kompor buat masak di dalam tenda (gak kuat dingin rasanya kalau harus masak di luar tenda) dan membuat sedikit minuman hangat yang bisa dia seduh supaya badannya hangat. Dia bilang kalau gak enak badan (baru sembuh kemarin malah ke gunung nih anak) jadinya aku suruh tidur aja sambil nunggu aku masak buat makan malam. Sekitar satu jam kemudian masakannya pun sudah jadi akhirnya aku bangunin dia supaya bisa makan malam bareng, kita makan berdua di temanin dengan suara-suara pendaki lain yang sibuk di luar tenda sana, entah apa yang mereka lakukan, entah apa yang mereka bicarakan kita gak peduli soalnya ngantuk + dingin nya gak nyantai, suhunya sampai -8 derajat. Habis makan malam kita berbincang-bincang sebentar habis itu kita tidur dengan lelap.

03.00 aku di bangunin buat lihat bintang dan setelah aku bangun ternyata gak seberapa dingin dibandingkan malam kemarin di Ranupane jadinya aku bangun dan membuka tenda untuk meihat bintang bersama dia. TARAAAA bintangnya banyak banget, ada ribuan bintang ada jutaan bintang di sana dan bahagianya bisa melihat bintang sama dia dari Ranukumbolo, tapi yaa seperti biasa aku gak menunjukan sikap kalau aku “senang”. Cuma menikmati bintang tanpa mengabadikan itu percuma, yuk mari kita mulai mengabadikan bintang—bintang tersebut, aku menemani dia memotret, tapi gak menemani dia keluar soalnnya mager dingin. Aku Cuma nunggu di tenda sambil melihat bintang, sekitar dua jam terlalu asik melihat bintang dan tak terasa udara sudah mulai dingin merasuk ke tubuh dan badan sudah mulia dingin, terpaksa memilih baring dan dan menuggu untuk melihat sunrise, menunggu matahari terbit mengapa tidak?.

 akankah aku jadi melihat sunrise? atau cuma wacana tapi malah ketiduran lagi kaya sebelumnya? atau akan ada hal yang mengejutkan? hmmmmm sebaiknya kita tunggu saja cerita selanjutnya.

Rabu, 24 Juni 2015

Another Rakum's Story


Hari itu tepat seminggu setelah pulang dari gunung Argopuro, aku kembali mendaki gunung lagi kali ini aku ke Ranukumbolo yang berada di semeru. Aku cuma berdua aja dengan dia yang sekarang dekat denganku, dekat dalam artian sebagai “teman” bukan lebih dari sekedar teman. Awalnya aku gak mau kalau berdua, temanku yang lain lelah dan mereka gak ada yang mau ikut. Sebenarnya aku ke Ranukumbolo memiliki maksud mau ngasih hadiah ulang tahun ke dia soalnya baru aja dia ulang tahun. akhirnya ya sudahlah aku pergi ke gunung berdua aja sama dia.

Perjalananku waktu itu banyak yang gak tau, cuma 2 orang temanku aja yang tau soalnya kita minjem barang ke mereka. Sedangkan teman dekatku aja gak ada yang tau perjalanan diam-diamku, Setiap di tanya jadi kalian ke gunung dan kompak jawabnya “ENGGAK, LAH GENDENG KALAU CUMA BERDUA AJA” karena emang aku dengan dia dulu pernah memiliki sedikit masalah hati yang selesai dan berakhir dengan salah satu dari kita menjauh. (hahhaha sedih) Cerita masa lalu kita sudah berlalu dan kini kita memulai lagi dengan cerita yang baru. Dengan awal yang sangat membingungkan. “Aku takut aku takut aku takut” selalu seperti itu yang ada di pikiranku. 

Aku menikmati perjalananku selama mau ke Ranukumbolo, baik itu dalam mempersiapkan barang, belanja keperluan untuk di sana, mempersiapkan semua barang-barang yang kita pinjem serta semua yang di rahasiakan dari yang lainnya, aku sangat menikmati semuanya karena yang kulakukan semua denganmu aku bahagia. 

Paginya kita masih sama-sama kuliah dengan perasaan sedikit cemas dan gak yakin  (pagi pun masih belum jelas jadi berangkat atau enggak di karenakan masih di PHP dosen pembimbing KKP dia) waktu itu dosennya menyuruh dia untuk ke Kediri menyelesaikan tugas KKPnya namun saat itu juga kita mau pergi ke Ranukumbolo yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, saat – saat yang menegangkan pun tiba ketika perkuliahan sudah selesai dan dia bersama kelompok KKPnya ketemu sama dosen yang membimbing daaaaannnnn......... 

“untuk minggu ini saya tidak bisa, kemungkinan minggu depan baru bisa ke sana”  

Ya seperti itulah ucapan yang di keluarkan oleh dosen pembimbing tersebut. Spontan saja dia langsung menoleh kepadaku untuk memberitahukan itu dan jelas saja aku senang dan aku ketawa karena bahagia akhirnya jadi juga berangkat ke Ranukumbolo (dalam hatiku aja sih senang soalnya gak mungkin aku joget-joget dalam ruang kelas). Setelah itu aku masih nungguin dia di depan gedung soalnya dia sama kelompoknya masih dikasih pengarahan sama dosen pembimbingnya untuk tugas KKP. Pukul 11.00 akhirnya dia keluar juga dari gedung dan menghampiriku yang dari tadi sudah menunggu lumayan lama di depan gedung fakultasku.

Kami mempersiapkan semuanya baru hari itu, malam kemarin sehari sebelum keberangkatan dia sakit demam. Badannya panas dan malam itu dia sedang bersamaku (dalam hatiku berkata kalau besok masih sakit yaudah di batalkan aja ke Ranukumbolonya) tapi subuhnya dia menghubungi kalau sudah sehat dan memutuskan jadi ke Ranukumbolo. Kami mempersiakan extra cepat dari mulai menyewa kompor, meminjam carrier, belanja logistik, siapin baju, ngambil jaket di penjahit dan gak lupa minjam kamera buat foto-foto di sana. Kami berencana mau berangkat sehabis Jum’atan supaya bisa tracking ke Ranukumbolonya hari itu juga dan berencana seharian hari Sabtu santai-santai di Ranukumbolo menikmati alam dan keindahannya, tapi rencana hanya menjadi sebuah rencana dan tuhan yang menentukan (ngomong apa sih –“) karena persiapannya belum ada dan semua serba mendadak di lakukan di hari itu juga, akhirnya packing dan lain-lain baru selesai sehabis magrib.

Sehabis magrib kita berangkat ke Ranupane menggunakan motor Oyon dan kurang lebih 2 jam perjalanan kita lalui dengan banyak bercerita di sepanjang jalan sambil gak jelas di jalan ketawa-ketawa, sempat nyasar, ban motor bocor, nyari rumah sakit dan gak terasa akhirnya kita nyampe juga di Ranupane. Sesampainya disana kita menuju tempat istirahat (sudah terlalu malam untuk ke perizinannya) malam itu kita akan menginap sebentar di Ranupane dan besok akan melakukan perjalanan menuju Ranukumbolo. Malam itu kami bertemu dengan pendaki lainnya yang berencana mendaki besok juga, dia sama seperti kita Cuma berdua aja dan dia berencana besok bareng dengan kita untuk melakukan pedakian karena mereka berdua belum pernah ke Ranukumbolo sedangkan kita sudah pernah ke sana dulu. Kita membangun tenda dengan santai, habis itu kita beres-beres di dalam tenda dan merapikan semua barang-barang di dalam tenda dan selanjutnya kita mau tidur supaya besoknya bisa segar dan fresh buat melakukan perjalanan. Saat mau tidur ituuuuuu tau tau Oyon datang dengan seorang temanku yang di sembunyikan, aku mah biasa aja pas tau Oyon datang ngantar jaket tapi aku langsung spontan bangun dan langsung membangunkan dia karena temanku yang ikut ke Ranupane itu adalah Linggar. Aku langsung salah tingkah karena ketahuan jadi kegunung dan hanya BERDUA sama dia. Aku kebingungan dan gak tau mau berbuat apa, tapi Linggar bilang tenang aja gak aku kasih tau ke anak-anak yang lain dan dia juga buat aku tenang jadinya aku berusaha tenang dan akhirnya kami berempat makan bersama sebelum Oyon dan Linggar kembali pulang ke Malang.

Malam semakin larut, bintang-bintang semakin jelas menampakan kilaunya seperti ribuan permata yang bertaburan diatas kepalaku. Tapi mata ini gak sanggup untuk melihatnya serta membidiknya dengan mata lensa kamera akhirnya kami memutuskan untuk tidur dan ingin bangun jam 3 buat memotret bintang-bintang tersebut. Kami akhirnya kembali bersiap untuk tidur, “selamat tidur buat kamu, semoga tidur nyenyak” (aku ngucapin dalam hati aja).

pppssssttttt, ini belum ending loh, hanya sepenggal cerita perjalananku. mau tau lanjutannya? tunggu postku selanjutnya ya dan masih sambungan dari cerita ini.

Kamis, 18 Juni 2015

Coban Rais



Seminggu lagi aku akan melakukan perjalanan panjang bersama beberapa temanku dan juga bersama dengan teman baruku yang aku temukan saat mendaki di gunung Panderman (mau tau kisahnya silahkan baca ceritaku sebelumnya) bagi kalian yang selalu membaca kisah-kisahku pasti ingat siapa mereka. Sebelum aku ceritakan perjalanan panjangku, sekarang aku mau cerita pemanasan buat perjalananku nanti. 

Sekarang aku mau berlibur dengan 4 temanku menuju coban rais mereka adalah Yola, Empus, Luqman dan Oyon. Kami membawa ayam buat di bakar di coban rais, kami niat membuat bakar-bakar di sana, kami membawa ayam uth 1 ekor, nasi tentara, serta bumbu bumbu yang di pakai buat bakar-bakar dan gak lupa juga kami bawa kuas dan air minum soalnya gak lucu kalau makan tapi gak minum.  Coban rais merupakan salah satu air terjun yang berada di kawasan kota wisata Batu. “Untuk mendapatkan sesuatu yang indah butuh pengorbanan” ya begitulah sesuatu yang selalu ku ingat jika aku sedang melakukan perjalanan di alam, termasuk perjalananku kali ini harus melakukan tracking kurang lebih 1 jam dahulu untuk melihat cobannya, dan perjalanannya seperti menaiki gunung karena jalannya yang naikkk dan turunn dan naik lagii. 

Kami ber 5 tiba di sana sehabis shalat zuhur dan kami semua menitipkan kendaraan kita di rumah orang tua angkat Oyon setelah itu kita berjalan kaki melewati perkebunan warga dan semakin jauh jalan yang kita tempuh semakin terlihat hutan rindang dan semakin kita terlarut di dalam hutan belantara. Kiri dan kanan kita adalah bukit-bukit, sebagian jalan juga dilewati oleh aliran air dari cobannya, jadi kita melewati arus air dan rasa airnya dingin tapi seger serta hijau hijau pohon membuat mataku dimanjakan.

Setengah perjalanan sudah kita lewati, namun tiba-tiba langit menjadi gelap dan langit mengeluarkan rintikan air secara perlahan yaa hujan mulai turun hujan mulai terjun bebas dari langit dan kini teman-temanku yang lain memakai jas hujan sedangkan aku (kebiasaan gak suka pakai jas hujan) memilh menikmati tubuh ini basah oleh sentuhan air hujan yang mengalir ke tubuhku, aku menikmati hujan, aku suka hujan, aku senang bisa main hujan dan menyatu dengan hujan. Banyak hal yang kita temukan di sepanjang jalan, contohnya saja banyak bebatuan, banyak tanah-tanah yang becek dan membuat sepatu yang ku kenakan menjadi buluk dan kotor. Ada sesuatu yang membuatku terkesan yaitu jembatan yang di bawahnya adalah jurang, kita melewati itu secara perlahan sangat berhati hati, sebenarnya aku ingin melangkah sendiri tapi Oyon menemaniku menyebrang jembatan itu, dan akhirnya aku menyuruh Oyon untuk menjemput teman-temanku di seberang jurang agar mereka semua juga aman. Semakin lama kita berjalan semakin terdengar suara gemercik air dari coban tersebut, pertanda Cobannya sudah dekat dan terang saja akhirnya kita tiba di sana.

Karena hujan yang deras membuat tubuhku ini rentan kedinginan, yaa seperti biasa telapak kakiku sangat dingin. Kita langsung segera membuat tenda darurat yang di buat dari jas hujan dan membuat perapian unutk menghangatkan tubuh, dan karena arus yang deras ahkirnya kita dilarang bermain-main dekat dengan coban, dari pada membahayakan diri kita mendingan menikmati dari jauh saja. Tenda sudah di bangun, kini saatnya membuaat makan. Membuat perapian dan mennyiapkan makanannya, yaa siapkan ayam yang mau di bakar, siapkan semua bumbu dan time to cooking. Kita sangat menikmati menunggu ayam sambil banyak berbincang, banyak hal-hal konyol yang kita lakukan, sayangnya sedikit sekali kita foto karena sudah asik menyatu dengan alam membuat kita lupa akan mengabadikan momen kebersamaan kita. Aku sempat ingin menyebur ke coban, aku ingin merasakan menyatu dengan air agar aku tau gimana rasanya basah. Beberapa kali aku mondar mandiri menghampiri aliran air yang deras itu, beberapa kali aku merasakan sejuknya air itu. Aku sangat suka, hingga makan yang di tunggu tunggu akhirnya masak, its time to “makan” kita berasa makan besar, satu ekor ayam bakar untuk berlima, terima kasih tuhan untun nikmat yang tiada tara ini.

Hari semakin gelap, tidak ada sunset sisa hujan tadi tidak memberikan izin kepadaku untuk melihat sunset dari tempat ini. Kami segera bersiap siap untuk kembali ke rumah, kami ber beres beres dan berbenah selanjutnya melakukan tracking malam hari. Baru pertama kali aku melakukan tracking malam hari, dengan perasaan takut, perasaan gelisah, perasaan cemas aku melewati hutan-hutan belantara, melewati banyak hal-hal yang menurutku aneh, kami semua saling berpegangan tangan soalnya takut ada apa-apa di sepanjang jalan, bukan berfikir hal negatif tapi hanya berjaga-jaga jangan sampai anggotanya berkurang satu apa lagi malah bertambah, perjalanan ini begitu menyeramkan hanya ditemani oleh cahaya dari handphone untuk menerangi jalan dan yang paling aku suka adalah ketika kita melihat ke atas dan melihat langit luas yang ada hanya bintang-bintang. Sepanjang perjalanan aku menemukan beberapa kunang-kunang, dan baru pertama kali aku melihat secara dekat dan aku memegang langsung kunang-kunang, hewan yang lucu dan unik karena mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, aku membawa satu kunang-kunang unutk di taruh di kamar dan menjadikan sebuah kenang-kenangan bahwa aku pernah melakukan perjalanan dan menemukan kunang-kunang.

Perjalanan semakin terang dan kita sudah melihat terangnnya kota, kita kembali ke kota dengan bisingnya dan terangnya penerangan sudha kita temukan. Tiba di rumah orang tua angkat Oyon aku memilih untuk membersihkan badan dan mandi soalnya habis kehujanan dan badanku kotor penuh lumpur namun baru sadar kalau aku gak bawa celana ganti dan Cuma bawa baju ganti akhirnya aku pulang pakai celana jas hujannya Luqman, aku jadi minjem jas hujan deh buat pakaian. Di dapur rumah ibu angkatnya Oyon, teman-temanku membuat perapian dan mereka menghangatkan badan sambil menungguku membersihkan diri di kamar mandi, setelah aku selesai dan sudha bersih akhirnya kami melakukan perjalanan pulang. Aku ingat satu hal, aku ingat kunang-kunangku akhirnya aku menanyakan kepada teman-temanku tetapi tidak ada satupun yang tahu, yaa kunang-kunang yang mau aku bawa ternyata hilang L aku sedih “kunang-kunang hanya unutk dikenang bukan untuk dibawa pulang, biarkan sia hidup di alamnya biarkan dia berkembang di alamnya karena rumah dia di sini dan rumahku di sana, kita tidak bisa bersama” (halah ngomong apa sih aku). Di bawah bintang-intang dengan view gunung Arjuno sepanjang jalan kedinginan akhirnya sampai juga di Malang. Terima kasih buat teman-temanku sudah mau menemaniku berlibur dan terima kasih membuat aku bahagia.



Satu minggu lagi dari perjalananku ini aku akan melakukan perjalanan ke Argopuro, tunggu ceritaku ya... pssssttttt maafkan aku yang beberapa kali telat memposting cerita, dan banyak cerita yang sudah berlalu dari bulan lalu. Karena dalam satu bulan lalu aku full melakukan perjalanan setiap weekend alhasil membuat aku gak ada waktu buat menceritakan kepada kalian semua. Tapi kali ini karena puasa dan aku sudah mendekati ujian akhir semester jadinya cuti dulu lah jalan-jalannya, tinggal tugasku membagikan kisahku kepada kalian para pembaca setia blogku.

Rabu, 17 Juni 2015

Memilih Untuk Sendiri

Malam ini, aku di rundung kegalauan yang amat sangat membuat aku galau. karena kau kau dan kau.
sedikit melihat-lihat tumblr bisa menghiburku dan aku menemukan postingan seseorang temanku di sana, setelah aku baca sepertinyaaa. ini pilihanku.


Aku tidak takut dengan kesendirian. Kesendirian membuatku mengenal siapa diriku secara lebih dalam, secara lebih intim dengan jiwaku sendiri daripada sebelumnya. Apakah dalam kesendirian aku merasa kesepian? Jawabannya, tidak. Tidak sama sekali.

Aku bahkan masih merasa ramai. Sedang diluar sana banyak sekali orang-orang yang sedang berduaan memadu kasih, berdua saling mengutarakan bualan gombal cinta, yang berada di tengah hiruk pikuk keramaian namun justru merasa sepi, namun justru belum menemukan kebahagiaan.

Pernah ada orang berkata padaku : “Orang yang bisa menikmati kesendirian adalah tipe orang yang kuat, orang yang sabar dan pasti adalah seseorang yang berhati lebar. Orang-orang seperti ini nantinya akan sangat menghargai sebuah hubungan, akan menjadi sosok yang sangat penyayang, kelak, jika ia sudah menemukan tambatan hatinya dan melepas kesendiriannya.” Ah, Masyaallah, indah sekali nasihat orang itu.

Ya, kesendirian itu adalah sebuah pilihan. Dan kita sangat bisa untuk tetap bahagia dan justru menjadi lebih hebat dengan pilihan tersebut.

"diambil dari postingan teman di tumblr."

Sabtu, 06 Juni 2015

Alam Mempertemukan



Libur kuliah kali ini enaknya ke mana ya? Liburnya lumayan lama loh dari tanggal 4 April sampai tanggal 10 April. Kalau Cuma diam di kos sih membosankan sekali, mendingan kita jalan jalan aja. Kali ini aku nekat sendirian ke Jember naik kereta api. Untuk pertama kalinya liburan naik kereta sendirian ke kota orang pula, entah ini efek dari aku berontak atau emang aku senang jalan-jalan sendiri? Tapi menurutku perjalanan kali ini merupakan penghiburan diriku sendiri karena hati dan pikiranku sangat suntuk entah karena kebanyakan pikiran atau kenapa, apa lagi hatiku saat itu sungguh kacau gak berbentuk dah. 

Perjalanan ke kota Jember dengan kereta api dari arah Malang selama 5 jam, aku naik kereta ekonomi (sekarang semua kereta ekonomi ada AC nya). Ke stasiun Malang aku di antar sama Yoga dan di Jember aku langsung sendirian keliling cari penginapan yang berada dekat dari stasiun karena aku tiba di sana sudah larut malam dan sedikit takut kalau harus jalan jalan lagi. Aku di jember selama 4 hari dan waktuku Cuma aku gunakan buat keliling keliling sekitar Jember saja, gak sempat ke pantai maupun air terjun karena saat itu sering hujan. Aku kembali ke Malang lagi pada tanggal 9 dan kali ini aku tidak naik kereta api melainkan naik bus tapi kali ini balik ke Malangnya tidak sendirian melainkan di temanin sama Yayan. Untuk pertama kalinya lagi aku naik bus (bener-bener berasa backpaker-an). Perjalan naik bus sama dengan naik kereta api yaitu 5 jam. Bus yang kami naikin tidak ber-AC dan sering berhenti di beberapa terminal.  Kalau aku di suruh menilai enak naik apa? Aku jawab enak naik kereta karena sudah pakai AC dan gak mutar-mutar, kalau naik bus itu bau asap rokoknya yang gak sanggup –“

Liburku berlanjut karena aku ikut teman-temanku mendaki gunung Panderman yang berada di kota Malang tepatnya di Batu. Aku bersama 4 orang temanku (Yoga, Edo, Emik, Agung) berangkat hari sabtu dan berencana pulang hari minggu karena gunung panderman tidak terlalu tinggi jadi sepakat Cuma sehari aja. Ketinggian gunung panderman 2045 mdpl.  Pagi pagi sebelum kami berangkat aku ke pasar buat belanja logistik di gunung, kami membawa ikan buat di bakar di gunung (sesuai permintaannya emik mau makan ikan bakar di gunung). Aku hanya membawa ransel 1 dan isinya hanya sleeping bag dan tidak membawa baju ganti.

Kami semua berangkat sehabis zuhur karena nunggu Emik pulang kuliah dulu, dan semua schedule berantakan tidak sesuai jadwal yang sudah di rencanakan, ya beginilah manusia hanya bisa merencakana dan Allah yang menentukan (ambil positifnya aja) di perjalanan ke sana kita semua kehujanan waktu masih di jalan raya terpaksa kita semua berhenti dan memakai jas hujan, aku sendiri harus beli jas hujan dulu baru bisa pakai soalnya kebiasaan suka sama hujan jadi males kalau harus pakai jas hujan. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya kita semua tiba di parkiran motor menuju gunung Panderman.
Kami memulai perjalanan tracking jam 3 sore, banyak istirahat dan mencari jalan soalnya jalan menuju puncak panderman banyak cabang, yang sudah pernah ke sana Cuma Emik jadinya kita semua mempercayakan rutenya ke Emik. Beberapa kali kami bertemu dengan rombongan pendaki yang lainnya dan beberapa kali juga kami bertemu dengan penduduk setempat yang sedang berkebun. Awal perjalanan kita di suguhi oleh kebun kopi dan ladang penduduk semakin tinggi dan semakin jauh kami melangkah kini hanya tersisa hutan saja. Kami sempat berhenti untuk beristirahat atau Cuma minum dan ngemil, sampai akhirnya kita tiba di latar ombo (ini tempat buat nge-camp atau yang berada di antara puncak sama kaki gunung panderman) kami disini bertemu dengan 3 pria yang beberapa kali berpapasan dengan kami selama perjalanan tadi. Kami ber 5 sedikit berbincang dan menanyakan rute menuju puncak panderman dan ternyata mereka juga ingin ke arah puncak, ini merupakan kesempatan baik untuk bersama-sama menuju puncak dan kita bisa tidak salah arah karena hari sudah mulai sore dan  matahari sudah ingin bersembunyi dan diganti dengan malam agar tidak buang-buang waktu maka kami semua memulai perjalanan menuju puncak Panderman.

Selama perjalanan dari latar ombo ke arah puncak total kelompok kita menjadi 8 orang, kami ber 5 di tambah 3 pria tadi dan perkenalkan nama mereka Orion, Bima dan Adit.  Rutenya menurut aku pribadi lumayan melelahkan soalnya jalannya tanjakan banget dan tinggi antara yang satu dan yang lain sekitar 50 cm dan berhasil membuat kaki kami kram karena menahan beban di kaki lebih banyak, tapi karena kita semua saling tolong-menlong hal seperti itu tidak menjadikan masalah malahan itu akan menjadi sebuah kenanganyang selalu akan kami ingat dan kami ceritakan kelak. Setelah berjalan beberapa menit menyusuri hutan hujan pun turun angsung dengan derasnya, kami segera memakai jas hujan yang kami bawa tadi. Setelah semua mengenakan jas hujan kami semua pun melanjutkan perjalanan, namun siapa yang menyangka kalau jalan yang ada di depan kita semua tertutup oleh derasnya arus air hujan yang berasal dari atas sana. Kami pun kebingungan untuk melanjutkan perjalanan ini ataukah balik menuju latar ombo karena jalannya tertutup oleh aliran air hujan yang deras, namun sebelum kami berfikir semakin lama si Orion memberitahukan kami kalau jalan yang kita lewati mengikuti arah aliran air supaya tidak terpeleset, kami semua pun akhirnya melanjutkan perjalanan. Hujan, basah, kaki kotor, celana kotor, sepatu kemasukan air, semua pokoknya kita lewati bersama. Beberapa kali Yoga mengalami kaki kram, beberapa kali aku jatuh karena licinnya jalan yang kami lewati. Tak terasa malam pun tiba, kami masih berada di perjalanan menuju puncak dan ditemani hujan yang sangat deras, kini badanku sudah mulai terasa dingin dan mulai susah untuk melihat jalan yang berada di depan. Sekitar jam 6 sore akhirnya kami tiba di Puncak Panderman.

Tujuan menuju puncak sudah kita temukan, kini saatnya kita mencari tempat untuk membangun tenda, namun sebelumnya kami semua membangun shelter, aku hanya wanita sendiri di suruh diam  di dalam shelter dan yang lainnya sibuk membangun tenda. Dalam diam aku merasa sangat kedinginan dan aku tidak membawa baju ganti untuk menghilangkan kedinginan ini. Dalam diam aku bersyukur akhirnya aku bisa sampai puncak bersama teman-temanku. Dalam diam aku bersyukur Allah mempertemukan aku kepada teman-teman seerti mereka dan mempertemukan kami dengan orang-orang seperti Orion, Bima dan Adit. Dalam diam lagi ternyata mereka sudah selesai membangun tenda, akhirnya aku di suruh berganti pakai baju yoga soalnya baju yang aku kenakan sudah terlalu basah dan takutnya aku masuk angin. Setelah berganti pakaian kami semua berpindah tempat ke tempat ngecamp. Dalam diam sekali lagi aku berfikir jangan pernah meremehkan jika mendaki gunung, karena seberapapun tigginya gunung itu kita tidak akan tau apa yang akan dihadapi hari itu, seperti sekarang diriku tidak membawa baju ganti karena berfikir hanya sehari dan tidak perlu berganti pakaian ternyata kena basah dan alhasil bingung pakai baju apa.
Di dalam malam dan di bawah ribuan bintang kami semua bersiap-siap makan malam. Menu malam ini adalah ikan bakar yang sesuai pesanan Emik mau makan ikan bakar di gunung, kami membakar memakai parafin dan kami memakan bersama dengan teman baru kami, beberapa kali pendaki lain melewati tenda kita dan saling menyapa dan ternyata banyak juga yang ngecamp bersama kita. setelah makan kami semua asik bermain kartu dan berbincang-bincang banyak hal dengan melihat ribuan bintang yang terlihat jelas berada di atas kita. Sungguh malam yang indah karena kita jauh dari keramaian kota, tidak ada sibuk dengan gadget, tidak ada keramaian kendaraan yang ada hanya kami di temanin suara alam dan di sinari oleh terangnya rembulan malam. Malam semakin malam dan kami semua sudah lelah, berarti saatnya untuk tidur. Selamat malam kawan semuanya, selamat beristirahat, kami semua tidur dengan lelap.
Selamat pagi panderman, kami ber 5 tidak ada yang bangun untuk melihat sunrise, kami semua bangun kesiangan karena kami pasti kelelahan kemarin dalam perjalanan. Lucu juga sih gak ada yang bangun sama sekali, gakada yang mengabadikan sunrise dari panderman. Dalam awal nyawaku sadar aku mendengar suara keramaian orang-orang yang habis melihat sunrise, aku tidak ingat ada berapa puluh orang yang jelas banyak lahhh. Satu per satu dari kami akhirnya sadar dan bangun, kami semua masih bermalas-malasan di dalam tenda. sekitar jam 8 pagi kami keluar tenda dan bersiap masak sarapan dan tidak lupa menjemur pakaian yang kemarin basah. Dalam pagi kami di temanin banyak monyet yang berkeliaran di sekitar tenda kami, awalnya aku takut tapi setelah melihat mereka tidak mengganggu akhirnya aku biasa aja asal mereka tidak mendekat, kami disini bertemu dengan banyak pendaki yang lainnya kami saling menyapa dan melemparkan senyum. Senangnya diriku jika kegunung itu semua dianggap kelaurga, tidak ada yang sombong, tidak memilih milih, karena kita semua disini sama hanya bagian kecil dari megahnya bumi ini. Menunggu makanan masak kami bermain dan bercerita banyak hal dan jam makan pun sudah tiba, kami semua mengisi perut dan setelah ini kami semua bersiap pulang. Perjalanan pulang dengan cuaca cerah dan hati pun senang kami berjalan menyusuri jalan yang kita lewati kemarin, sekitar 2,5 jam akhirnya kami semua sampai di bawah. Kami tidak langsung pulang, tapi kami semua makan bakso. Dan di warung bakso inilah kami akhirnya berkenalan dengan 3 pria yang dari kemarin bersama kita (selama di gunung kita hanya memanggil mas dan mba tanpa menyebut nama karena belum berkenalan) satu persatu dari kita menyebutkan nama. Aku dan mereka bertukar nomor telepon supaya komunikasi kami tidak hanya sampai di sini melainkan jika sudah di Malang kami tetap komunikasi dan tetap menjaga silaturahmi. Dan kami berencana akan berlibur sama-sama ke sebuah gunung yang ada di Indonesia.

Diawal inilah kami bertemu, di awal inilah kami memulai, di awal inilah kami dipertemukan dan memulai cerita...

Apakah hanya ucapan semata? Apakah hanya basa basi semata? Ataukah emang jadi bakalan berlibur bersama? Gunung mana yang akan kita tuju? Atau hanya sebuah tempat yang bisa di datangin bersama? Tunggu kelanjutannya hanya di cerita-ceritaku selanjutnya... karena aku sekarang belum tau apakah bakalan traveling lagi atau tidak. Semoga saja masih diberi umur panjang dan di beri kesehatan agar bisa menikmati keindahan alam indonesia lagi....